Tampilkan postingan dengan label Skin Art. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Skin Art. Tampilkan semua postingan

Topan Tattoo Skin Art

Posted by YZN Kickass! | Posted in | Posted on 01.32

0



‎Topan Tatto sudah hadir di Medan & siap merajah tubuh teman-teman yang pengen kulitnya berwarna.
CP: 085239953355 03419966699 PIN : 232ECFF9 :D

TATO & KUASA PENGETAHUAN

Posted by YZN Kickass! | Posted in | Posted on 00.35

0



Rahung Nasution, penggila tato dan penggiat video dokumenter
“Datangnya peradaban besar adalah arus balik bagi kehidupan para penghuni Nusantara. Selama berabad mereka digusur, dikucilkan dan dianggap asing. Keprihatinan itu direkam oleh rajah pada tubuh mereka. Mentawai Tattoo Revival merekam perjalanan ini dan persinggungannya dengan praktek rajah dan perlawanan modern.”— Hilmar Farid, Sejarawan
Sebagai “bangsa taklukan”, kemudian kita melihat diri kita dengan menggunakan mata dan telinga mereka (para penakluk). Kita membaca dan menamahami segala sesuatunya dengan nama-nama (konsep-konsep) yang mereka lembagakan di negeri-negeri yang dulu mereka taklukkan melalui institusi-institusi ilmu pengetahuan sebagai sumber legitimasi, otoritas dan tehnologi politik pengetahuan. Melalui perangkat-peragkat yang mereka wariskan itulah kita memandang dan menguasai diri kita sendiri, saudara-saudara kita dengan bentuk dan cara orang Eropa menguasai kita di masa lalu.
Di bangku sekolah, kita diajarkan bagaimana bangsa Eropa “menemukan” benua Amerika. Seakan-akan benua yang dihuni oleh pribumi Amerika—yang secara sesat mereka sebut “Indian”—tersebut pernah hilang sehingga berhasil ditemukan Colombus sebagai tanah primitif yang buas—di mana penghuninya masih menyembah roh-roh yang bermukim di batu, sungai dan pepohonan dan mereka masih melakukan ritual aneh dalam bentuk-bentuk persembahan kepada dewa-dewa mereka yang kejam dan haus darah.
Alkisah, ketika para petualang Eropa singgah di kepulauan Mentawai, memang agak berbeda dengan nasib benua Amerika (dalam jumlah yang besar kaum pribuminya dibunuh). Saat itu mereka berpendapat bahwa suku yang mendiami kepuluan tersebut dihuni oleh “orang-orang liar yang ramah”. Pandangan umum kaum penakluk ini tidak mengalami perubahan hingga abad ke-20.
Ambisi Eropa untuk menguasai sumber rempah-rempah dan emas selalu disertai dengan kisah-kisah petualangan (juga bualan) menakjubkan, dalam kenyataannya sering kali berakhir naas. Dalam bukunya Mainan Bagi Roh: Kebudayaan Mentawai, Reimar Schefold mencatat: pada abad ke-17, sebuah armada V.O.C yang berlayar di perairan sebelah barat pulau Sumatera menemukan sebuah kapal yang terapung-apung di dekat sebuah pulau—yang kemudian kita kenal dengan nama Sipora—dengan seratus enam puluh orang awak yang sebagian besar mati diserang wabah penyakit dan sebagian kecil yang sekarat berhasil diselamatkan. Dari peristiwa yang naas tersebut, kemudian para petualang itu menamakan pulau itu “Goe Fortuyn” (Nasib Baik).
Beberapa tahun sebelumnya, para pelaut Belanda yang berlayar ke Hindia-Timur sempat berlabuh di pulau Pagai dan dengan seenak udhel mereka menanamainya Nassau. Sedangkan untuk pulau Siberut mereka sebut Matana (Mintanoan) yang berasal kata manteau dalam bahasa Mentawai, yang berarti “laki-laki”.
Kemudian pada abad ke-19 datanglah Raffles, seorang naturalis yang tertarik dengan budaya lokal mengutus Christie, seorang penerjemah bahasa-bahasa pribumi ke Enggano, Mentawai dan Nias. Berdasarkan dari laporan Christie, Raffles menulis: “saya semula ingin menulis buku untuk membuktikan bahwa orang Nias merupakan suku bangsa yang paling berbahagia dan paling baik di bumi ini. Namun sekarang saya dapati bahwa penduduk pulau-pulau Nassau dan Pagai ternyata lebih ramah…”
Apa yang dianggap Raffles sebagai “keramahan” tidak berlangsung lama. Pada tahun 1824 Inggris menukarkan Bengkulu, kep. Mentawai dan sekitarnya dengan Singapura kepada Belanda. Sejak dimasukkan Belanda sebagai wilayah jajahan, Mentawai berungkali didatangi ekspedisi militer untuk menghukum orang Mentawai yang menyerang para pedagang dari pulau Sumatera.
Pada tahun 1893 Belanda menempatkan pribumi Mentawai selaku pegawai pemerintah jajahan di Sipora dan ini hanya bertahan tiga tahun kerena terjadi perseteruan dengan penduduk setempat, yang berakhir dengan pengusiran perpanjangan tangan kolonial Belanda tersebut. Belanda akhirnya menemukan siasatnya yang paling jitu, yaitu dengan meminta bantuan Zending (“Rheinicsche Missionsgesellschaft”). Misi penyiaran agama Kristen mengutus August Lett ke Pagai Utara pada tahun 1901 sebagai petugas Zending yang pertama. Selama menjalankan misinya di Pagai Utara, Lett juga berpendapat seperti Raffles, bahwa orang Mentawai bersifat ramah. Tetapi orang-orang liar yang ramah ini sama sekali tidak berminat pada ajaran yang hendak disampaikan Zending. Orang Mentawai sepenuhnya berada di bawah pengaruh para sikerei (saman) yang masih menyembah “dewa-dewa” primitif dan mereka nyaris telanjang serta masih mekalukan praktek menganyau.
Karena marah pada misi Zending yang waktu itu terkenal berpandangan picik dan tidak selaras dengan kehidupan tradisional orang Mentawai, mereka berkali-kali melancarkan serangan terhadap Zending. Lett tewas dibunuh pada tahun 1909. Misi Zending tidak memperoleh dukungan dalam upaya “memperadabkan” orang Mentawai untuk menjadi penganut Prostestan.
Dari jurnal-jurnal Zending yang diteliti Reimar Schefold, ketika Perang Dunia II berkecamuk di Eropa, tercatat baru sekitar 10 % penduduk Mentawai yang berhasil dijadikan penganut agama Kristen. Dan orang pertama yang berhasil dibaptis setelah kematian Lett adalah seorang wanita. Peristiwa pembatisan itu terjadi pada tahun 1915.
Sepuluh tahun setelah Proklamasi 1945, rezim Soekarno menggalakkan proses pembentukan “karakter bangsa dan identitas nasional” melalui sebuah proyek “pemberadaban” suku-suku di Indonesia yang ketika itu, ironisnya, juga dianggap liar dan primitif. Persis seperti cara pandang kaum misionaris dan kolonial Belanda. Niat baik yang “sesat pandang” ini kemudian dituangkan melalui satu kebijakan, yakni SK No. 167/PROMOSI/1954 yang berisi perintah agar suku-suku yang masih hidup secara tradisional meninggalkan praktek-praktek “primitif” mereka dan memilih salah satu agama yang diakui oleh negara. Kemudian atas desakan petinggi-petinggi tiga agama dominan, orang Mentawai diminta untuk meninggalkan Arat Sabulungan (kepercayaan leluhur suku Mentawai).
Langkah nyata yang mesti diambil untuk menerapkan kebijakan ini adalah melokalisasikan uma-uma yang letaknya terpencar-pencar di sepanjang sungai-sungai ke dalam pedesaan model Jawa yang teratur rapi, disertai dengan dibangunnya fasilitas tempat-tempat ibadah dan sekolah-sekolah. Kemudian juga diberlakukan peraturan yang melarang kaum pria untuk berambut panjang, menanggalkan hiasan manik-manik, cawat dan pelarangan ritual meruncingkan gigi dan merajah tubuh (tato) karena hal-hal tersebut dianggap sebagai praktek-praktek budaya primitif yang mesti dibrantas.
Proses masif dari penghancuran identitas suku Mentawai berlangsung pada jaman Orde Baru pada tahun 1980an. Hal ini dilakukan dalam rangka menerapkan berlakunya Undang-undang Pemerintahan Desa yang yang dikeluarkan pemerintah tahun 1979. Gaya hidup tradisional dan seluruh struktur “pemerintahan tradisional” orang Mentawai mesti dibrengus. Fungsi Tetua Adat mesti diganti dengan struktur pemerintahan desa. Bagi mereka yang masih mempertahankan kepercayaan leluhur dan cara hidup tradisional dikenai sangsi. Tidak jarang pula terjadi kekerasan, misalnya dengan pembakaran uma dan perangkat-perangkat upacara adat. Dengan jumlah penduduk yang sangat sedikit dan cara hidup mereka yang tidak mengenal perang modern tidak bisa melakukan perlawanan yang berarti untuk menghadapi kekuatan negara.
Jumlah penduduk Mentawai yang paling besar terdapat di pulau Siberut dan mereka bermukim dalam bentuk kelompok-kelompok marga di hulu-hulu sungai. Karena wilayah mukim mereka yang cukup terisolir di hulu-hulu sungai, dan ketika kawasan-kawasan pesisir sudah didominasi para pendatang dari pulau Sumatera, gaya hidup tradisional suku Mentawai masih tersisa dan dijalankan para sikerei. Hingga kini bisa bertahan dalam jumlah yang semakin menyusut dan lambat-laun akan mengalami ‘kepunahan”.
Ketika pertama sekali berkunjung ke Mentawai pada bulan Februari 2009, kapal yang kami tumpangi berlabuh di Muara Sikabaluan. Para pendatang dari Minangkabau yang telah menetap lama di pulau Siberut terheran-heran melihat penampilan kami yang datang dari “Jawa”dengan tato di sekujur tubuh hingga di wajah kami. Menurut salah satu dari mereka, kami pantas berkumpul dengan para sikerei yang bermukim di Simatalu, di ujung utara pulau Siberut dan merupakan wilayah yang terisolir.
Pernyataannya ini berdasar pada kenyataan, bahwa hingga tahun 2009 pun, camat Sikabaluan masih memberlakukan peraturan yang melarang orang Mentawai untuk menato tubuhnya. Bahkan di Matototan, pedalaman Siberut selatan (yang kini telah menjadi desa pemukiman bentukan Orde Baru dan menjadi tempat tujuan wisata untuk “menikmati keeksotisan” kehidupan tradisional Mentawai), kami menjumpai anak-anak muda yang menyatakan bahwa tato tradisional yang terdapat disekujur tubuh para sikerei merupakan tato “setan”. Ironisnya, ketika kami melakukan kolaborasi pembuatan tato tradisional dengan sipatiti (ahli tato tradisional) dan para sikerei, anak muda tersebut meminta ditatokan motif “tengkorak” ala bajak laut, dan bahkan salah satu dari mereka ada yang ingin dibuatkan tato bermotifkan lambang salah satu partai politik Orde Baru. Kekuasaan yang telah memberengus dan menghancurkan tradisi leluhur mereka.
Kita yang mendapat pendidikan Orde Baru tentunya masih ingat bagaimana institusi pendidikan menjadi lembaga cuci-otak yang doktrin-doktrinya menyemai jimat—terutama melalui mata pelajaran wajib Agama dan Pendidikan Moral Pancasila—telah membentuk satu kesadaran bahwa kita memang berbeda dengan saudara-saudara kita yang bermukim di pedalaman. Kesadaran ini memberi legitimasi ketika Orde Baru melakukan kriminalisasi tato pada tahun 1980an. Orang-orang bertato dianggap sebagai penjahat sosial dan perlu satu shock terapi dengan membunuhi mereka.
Ketika kami memulai proyek Mentawai Tattoo Revival, kami tidak memiliki gambaran yang jelas seperti apa “kerusakan” yang dilakukan negara terhadap kehidupan tradisional orang Mentawai. Acuan yang kami dapatkan melalui beberapa buku yang diterbitkan peneliti Barat, seperti bukunya Reimar Schefold yang kami sebut di atas, disertasi Ady Rosa (dosen antropologi dari Universitas Padang) yang sering dikutip media dengan asumsinya bahwa “tato Mentawai merupakan tato tertua di dunia”, serta bahan-bahan yang kami dapatkan melalui internet tidak cukup untuk memahami relasi tato tradisi dengan kehidupan tradisional orang Mentawai yang kini hanya tersisa di pulau Siberut. Di tiga pulau besar lainnya (Pagai, Sipora dan Sikakap), tato dan kehidupan tradisional mereka sudah hilang. Ketika gaya hidup tradisional tidak lagi dipraktekkan, secara otomatis, uma (rumah adat) yang berfungsi sebagai tempat tinggal beberapa keluarga dan tempat dilakukannya berbagai ritual upacara adat juga turut hilang.
Dalam kesaksianya, Aman Lusin Sangiamang, seorang sikerei dari wilayah pesisir timur pulau Siberut terpaksa menorehkan sebuah tato salib di lengannya, di antara motif-motif tato leluhurnya. Hal ini ia lakukan agar pendeta yakin bahwa ia telah menganut agama Kristen, kemudian anak-anaknya bisa sekolah dan tidak lagi menjalani kehidupan tradisional seperti kehidupannya yang masih terikat dengan tradisi-tradisi leluhur.
Sejak tahun 2009 kami telah melakukan 5 kali kunjungan ke pulau Siberut dan telah menghasilkan dua video pendek dalam bentuk catatan perjalanan dan presentasi (dokumenter?), ratusan foto, serta puluhan sketsa motif tato tradisi. Dalam proses ke depan, kami sedang mengerjakan penulisan buku tato Mentawai dan mempersiapkan satu dokumenter panjang Titi: A Rite Of Passage, Tato Sebagai Ritus Hidup orang Mentawai.
Materi-materi serta informasi yang kami dapatkan di atas merupakan hasil kolaborasi dalam bentuk workshop dengan sipatiti dan para sikerei dari tempat-tempat yang kami kunjungi.
Setiap kunjungan ke pedalaman Siberut, kami mencoba menawarkan satu bentuk kolaborasi dengan sipatiti dan sikerei dari Matotonan, Buttui, Sakudei dan Sagulubbek untuk secara bersama-sama menyelesaikan tato beberapa sikerei yang belum selesai. Tawaran untuk melakuan kolaborasi ini kami ajukan karena yang kami di lapangan: di beberapa tempat sudah tidak terjadi lagi regenarasi sipatiti dan ritual pelantikan seorang sikere sudah jarang terjadi.
Modal nekat untuk melakukan proyek kolaborasi ini berawal dari kecintaan kami terhadap tato. Tentu saja kami mengalami berbagai kendala, terutama soal motede pendekataan di lapangan kerena kami tidak memiliki disiplin ilmu antropologi atau sejenisnya. Dari segi pendanaan, hingga saaat ini masih bergantung pada kocek pribadi. Belum lagi sulitnya medan dan sarana transportasi yang terbatas untuk mencapai pedalaman. Sebagai contoh untuk sampai di Sakkudei, kami mesti mendaki bukit, menyusuri sungai-sungai dan melewati rawa-rawa selama dua hari untuk mencapainya.
Apa yang kami temukan selama melakukan koloborasi dengan sipatiti dan para sikerei adalah proses pemusnahan budaya yang mereka alami dan hal ini dilakukan melalui kuasa pengetahuan dan kuasa politik dengan tujuan hendak “memajukan” peradaban orang Mentawai. Dalam hal ini, menjadi modern berarti dengan serta-merta mencampakkan tradisi leluhur. Kuasa Pengetahuan dan Kuasa Politik sejenis inilah yang ingin kami tolak, serta realitas-realitas yang mereka alami ingin kami ungkap melalui proyek kolaborasi pendokumentasian tradisi tato Mentawai.

Sumber: http://cokiliciouz.tumblr.com/post/14067340786/tato-kuasa-pengetahuan

Mentawai Tattoo Revival Video

Posted by YZN Kickass! | Posted in | Posted on 23.56

0


Mentawai Tattoo Revival - the 1st Visit (FULL) - the 1st video




Mentawai Tattoo Revival (FULL) - the 2nd video

Mentawai Tattoo – the Oldest Tattoo Designs in the World

Posted by YZN Kickass! | Posted in | Posted on 23.25

0


The term “Tattoo” is taken from the word “Tatau” in the language of Tahiti. Tattoo was first recorded by Western civilization in James Cook’s expedition in 1769. According to some researchers, the oldest tattoos found on Egyptian mummies from the 20th century BC. But, the art of body painting found in almost all parts of the world with a variety of designs and patterns.

Tattoos Egypt, which estimated the oldest tattoo was discovered in 1300 BC. whereas the Mentawai been tattooing their bodies since their arrival to the west coast of Sumatra in the Age of Metal, 1500 BC – 500 BC. Proto-Malays nation came from mainland Asia (Indochina).


According to the researchers “tattoo” of Indonesia, Tattoo Mentawai is the oldest in the world known as Titi. For the Mentawai society, a tattoo is the spirit of life. One of the tattoo position is to show identity and difference in social status or profession. For example, Tattoos Sikerei (called healers for the Mentawai) different with tattoo hunter. Hunter known for his catch pictures of animals, like pigs, deer, monkeys, birds, or alligators. while Sikerei known from star tattoo “Sibalu-Balu” in those body.

Based on Mentawai tradition, tattoo also has a function as a symbol of natural balance. In the tradition of Mentawai people, objects such as rocks, animals, and plants should be enshrined in their body. They regard all things have souls. Another function of the tattoo is art, Mentawai people tattooing their bodies in accordance with his creativity.

The position of tattoo is governed by the trustworthiness Mentawai tribe, “it’s termed Arat Sabulungan”. The term is derived from the word “sa” (a collection), and “bulung” (leaves). A collection of leaves that are arranged in a circle made of palm or sago palm tops, which is believed to have magical power called “Kere” or “Ketse”. It’s used as a medium for the cult of “Tai Kabagat Koat” (God of Sea), “Tai Ka-leleu” (God of the forest and mountains), and “Tai Ka Manua” (God of the clouds).


“Arat Sabulungan” used in every ceremony, birth, marriage, medical, moving house, and tattoos. When boys enter puberty, the age of 11-12 years, parents called Sikerei and Rimata (tribal chief). They will negotiate to determine the day and month of implementation of the tattoo.

After that, selected “Sipatiti” (tattoo artist). Sipatiti isn’t based on the appointment of public office, such as shamans or chiefs, but the male professions. Expertise Sipatiti’s must be paid with a pig. Before the tattoo done, arranged first Ceremony led by Sikerei, in “Puturukat” (sipatiti’s gallery).

Body of boy who would tattoo was drawn with a stick. The sketch on the body was then stabbed with a wooden-handled needle. the body of boy slowly beaten with a wooden bat to insert dyes into the skin layer. Dyes used is a mixture of banana leaves and coconut shell charcoal(Source, Ady Rosa-The Tattoo researchers).




sumber: http://www.moreindonesia.com/mentawai-tattoo-the-oldest-tattoo-designs-in-the-world/

ARTI DAN MAKNA TATO BAGI MASYARAKAT DAYAK DI KALIMANTAN

Posted by YZN Kickass! | Posted in , | Posted on 02.39

0

Tato bagi masyarakat Dayak merupakan bagian dari tradisi, religi, status sosial seseorang dalam masyarakat, serta bisa pula sebagai bentuk penghargaan suku terhadap kemampuan seseorang. Karena itu, tato tidak bisa dibuat sembarangan. Ada aturan-aturan tertentu dalam pembuatan tato atau parung, baik pilihan gambarnya, struktur sosial orang yang ditato maupun penempatan tatonya. Bahkan yang membuat tato itupun bukan sembarang orang.
Meski demikian, secara religi tato memiliki makna sama dalam masyarakat Dayak, yakni sebagai “obor” dalam perjalanan seseorang dalam menuju alam keabadian, setelah kematian. Karena itu, semakin banyak tato, “obor” akan semakin terang dan jalan menuju alam keabadian semakin lapang. Meski demikian, tetap saja pembuatan tato tidak bisa dibuat sebanyak-banyaknya secara sembarangan, karena harus mematuhi aturan-aturan adat.
Setiap subsuku Dayak memiliki aturan yang berbeda dalam pembuatan tato. Bahkan ada pula subsuku Dayak yang tidak mengenal tradisi tato, seperti masyarakat Dayak Meratus di Kalimantan Selatan (subsuku Dayak manyan). Bagi suku Dayak yang bermukim perbatasan Kalimantan dan Serawak Malaysia, misalnya, tato di sekitar jari tangan menunjukkan orang tersebut suku yang suka menolong seperti ahli pengobatan. Semakin banyak tato di tangannya, menunjukkan orang itu semakin banyak menolong dan semakin ahli dalam pengobatan.
Bagi masyarakat Dayak Kenyah dan Dayak Kayan di Kalimantan Timur, banyaknya tato menggambarkan orang tersebut sudah sering mengembara. Karena biasanya setiap perkampungan Dayak yang mentradisikan tato memiliki jenis motif tatoo tersendiri bahkan memiliki penempatan tato tersendiri di bagian tubuh mereka yang merupakan ciri khas suku mereka. Sehingga bagi mereka banyaknya tato menandakan pemiliknya sudah mengunjungi banyak kampung. Jangan bayangkan kampung tersebut hanya berjarak beberapa kilometer. Di Kalimantan, jarak antarkampung bisa ratusan bahkan ribuan kilometer dan harus ditempuh menggunakan perahu menyusuri sungai lebih dari satu bulan. Karena itu, penghargaan pada perantau diberikan dalam bentuk tato.
Tato bisa pula diberikan kepada bangsawan. Di kalangan masyarakat Dayak Kenyah, motif yang lazim untuk kalangan bangsawan (paren) adalah burung enggang (anggang) yakni burung endemik Kalimantan yang dikeramatkan. Bagi mereka burung enggang merupakan rajanya segala burung yang melambangkan sosok yang gagah perkasa, penuh wibawa, keagungan, dan kejayaan. Sehingga tato motif jenis ini biasanya diperuntukan hanya untuk orang-orang tertentu saja. Adapun bagi Dayak Iban, kepala suku beserta keturunanya ditato dengan motif “dunia atas” atau sesuatu yang hidup di angkasa. Selain motifnya terpilih, cara pengerjaan tato untuk kaum bangsawan biasanya lebih halus dan detail dibandingkan tato untuk golongan menengah (panyen).
Bagi subsuku lainnya, pemberian tato dikaitkan dengan tradisi menganyau atau memenggal kepala musuh dalam suatu peperangan. Tradisi ini sudah puluhan tahun tidak dilakukan lagi, namun dulunya semakin banyak mengayau, motif tatonya pun semakin khas dan istimewa. Tato untuk sang pemberani di medan perang ini, biasanya di tempatkan di pundak kanan. Namun pada subsuku lainnya, ditempatkan di lengan kiri jika keberaniannya “biasa” dan di lengan kanan jika keberanian dan keperkasaannya di medan pertempuran sangat luar biasa.
Pemberian tato yang dikaitkan dengan mengayau ini, dulunya sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan suku kepada orang-orang yang perkasa dan banyak berjasa.
Tato atau parung atau betik tidak hanya dilakukan bagi kaum laki-laki, tetapi juga kaum perempuan. Untuk laki – laki, tato bisa dibuat di bagian manapun pada tubuhnya, sedangkan pada perempuan biasanya hanya pada kaki dan tangan. Jika pada laki-laki pemberian tato dikaitkan dengan penghargaan atau penghormatan, pada perempuan pembuatan tato lebih bermotif religius.
“Pembuatan tato pada tangan dan kaki dipercaya bisa terhindar dari pengaruh roh -roh jahat atau selalu berada dalam lindungan Yang Maha Kuasa. Pada subsuku tertentu, pembuatan tato juga terkait dengan harga diri perempuan, sehingga dikenal dengan istilah “tedak kayaan”, yang berarti perempuan tidak bertato dianggap lebih rendah derajatnya dibanding dengan yang bertato. Meski demikian, pandangan seperti ini hanya berlaku disebagian kecil subsuku Dayak.
Pada suku Dayak Kayan, ada tiga macam tato yang biasanya disandang perempuan, antara lain tedak kassa, yakni meliputi seluruh kaki dan dipakai setelah dewasa. Tedak usuu, tato yang dibuat pada seluruh tangan dan tedak hapii. Sementara di suku Dayak Kenyah, pembuatan tato pada perempuan dimulai pada umur 16 tahun atau setelah haid pertama. Untuk pembuatan tato bagi perempuan, dilakukan dengan upacara adat disebuah rumah khusus. Selama pembuatan tato, semua pria tidak boleh keluar rumah. Selain itu seluruh keluarga juga diwajibkan menjalani berbagai pantangan untuk menghindari bencana bagi wanita yang sedang ditato maupun keluarganya.
Motif tato bagi perempuan lebih terbatas seperti gambar paku hitam yang berada di sekitar ruas jari disebut song irang atau tunas bambu. Adapun yang melintang dibelakan buku jari disebut ikor. tato di pergelangan tangan bergambar wajah macan disebut silong lejau. Adapula tato yang dibuat di bagian paha. Bagi perempuan Dayak memiliki tato dibagian paha status sosialnya sangat tinggi dan biasanya dilengkapi gelang di bagian bawah betis. Motif tato di bagian paha biasanya juga menyerupai silong lejau. Perbedaanya dengan tato di bagian tangan, ada garis melintang pada betis yang dinamakan nang klinge.
Tato sangat jarang ditemukan di bagian lutut. Meski demikian ada juga tato di bagia lutut pada lelaki dan perempuan yang biasanya dibuat pada bagian akhir pembuatan tato dibadan. Tato yang dibuat di atas lutut dan melingkar hingga ke betis menyerupai ular, sebenarnya anjing jadi – jadian atau disebut tuang buvong asu.
Baik tato pada lelaki atau perempuan, secara tradisional dibuat menggunakan duri buah jeruk yang panjang dan lambat – laun kemudian menggunakan beberapa buah jarum sekaligus. Yang tidak berubah adalah bahan pembuatan tato yang biasanya menggunakan jelaga dari periuk yang berwarna hitam.
“Karena itu, tato yang dibuat warna-warni, ada hijau kuning dan merah, pastilah bukan tato tradisional yang mengandung makna filosofis yang tinggi.
Tato warna-warni yang dibuat kalangan anak-anak muda saat ini hanyalah tato hiasan yang tidak memiliki makna apa-apa. Gambar dan penempatan dilakukan sembarangan dan asal-asalan. Tato seperti itu sama sekali tidak memiliki nilai religius dan penghargaan, tetapi cuma sekedar untuk keindahan, dan bahkan ada yang ingin dianggap sebagai jagoan.